Friday, October 8, 2010

Yang Tak Terlewat dari Yogya : Pasar Sayur Beringharjo

Yogya, salah satu kota yang sulit terlupakan, sama seperti lagu KLA Project "Yogyakarta" tiap sudutnya menyapa bersahabat.

Satu pasar besar di daerah JL. Ahmad Yani, Pasar Beringharjo yang terkenal dan tak mungkin di lewatkan.

Pasar Beringharjo adalah pasar tradisional yang terletak di Jl. Jend A. Yani Kawasan Malioboro, Yogyakarta. Pasar ini terkenal dengan koleksi dagangan batik, baik yang berupa kain batik ataupun produk garmen batik lainnya seperti, daster, celana pendek, piyama dll. Lokasi pasar ini bersebelahan dengan museum sejarah Benteng Vredeburg dan berseberangan dengan Gedung Agung. Pasar ini terkenal sebagai salah satu tujuan wisata dan sekaligus merupakan pusat kegiatan perdagangan produk batik Yogyakarta. 
Sumber : Wikipedia


DSC_0319

Tujuan kami sebenarnya adalah Pasar Batik Beringharjo, tapi ternyata pasar tersebut baru buka sekitar pukul sepuluh pagi. Cukup siang untuk ukuran pasar tradisional. Karena keterbatasan waktu akhirnya pasar sayur pun disambangi.

Menggunakan becak, yang kala pagi masih sepi dan tarifnya pun masih murah. Berkisar Rp. 5.000,- sampai Rp. 10.000,- per satu becak,  kami bisa berkeliling dari depan Malioboro sampai ke kraton dan singgah di Beringharjo. Sambil menaiki becak di sejuknya hawa Yogya, tiap sudutnya tak luput dari "jepretan" kamera. Tak mungkin momen-momen itu terlewatkan.


DSC_0296

Karena masih pagi, tukang becak pun masih mau menunggui kami untuk melihat-lihat isi pasar. Tak berbeda dengan pasar tradisional didaerah lain, pasar ini juga menawarkan berbagai macam sayur, buah, daging sampai bumbu.
 

DSC_0318

Sayuran dan buah yang ditawarkan relatif segar, walau ada beberapa yang mulai layu. Harganya memang sedikit lebih murah dari pasar tradisional di daerah Jakarta. Mungkin karena mereka langsung mendapat supply dari petani. 

DSC_0303

Melewati lorong yang gelap ternyata pengunjung pun tidak sebanyak yang kami duga. Yang unik, terlihat beberapa orang ibu buruh gendong. Terlihat sudah tua tetapi ternyata mampu menggendong kiloan sayur di punggungnya. Tarifnya pun tidak besar. Rp. 4.000,-sampai  Rp. 5.000,-untuk sekali gendong/angkut barang. 

2010_0702 Tour De Java5

Bisa dibayangkan, penghasilan setiap harinya mungkin tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Tak terlihat sedikit pun rasa capek setelah menggendong/mengangkut barang atau sayuran..Hebat !

Setelah berputar sebentar di lokasi pasar, kami pun memutuskan untuk keluar. Memanggil kembali si tukang becak dan bertolak menuju penginapan. Jalanan masih terlihat sepi, walau dipinggirannya gerombolah becak sudah mulai beroperasi.

DSC_0321

Dipinggiran jalan menuju penginapan, ada segerombol ibu-ibu penjual bunga. Momen bagus yang sayang dilewatkan. Walau masih di atas becak, kamera narsis saya masih "jeprat jepret" mengabadikan ibu penjual bunga.

Saya sendiri sama sekali tidak tau bunga apa yang di jual dan untuk apa. Hanya pemandangan unik ini jarang kami temui sebelumnya.

DSC_0324

Satu sudut Yogya sudah kami lalui, walau pasar tradisional sayur biasa tapi jadi satu keunikan dari daerah ini.

3 comments:

My Life, My Child and My Food said...

Jadi pengen ke Yogya abis lihat foto2 dikau, sye!
Kesana naik apa biasanya sye? asik foto2nya..bening sekali..

Sarang Japati said...

Yukkk ke Yogya, gw juga pengen kesana lagi :D secara kemaren belum semuanya di foto ;((...

kemaren naek kendaraan sendiri Roos..biar gampang pergi2nya hehehehhehe...thankss yaaa

Caroline Atmadja said...

tgl 25 waktu di Yk pingin ke pasar Beringharjo ternyata jam 3.30 sudah tutup, padahal kami baru sampai Yk jam 5 dr borobudur hehe, nasib deh...
Pasar itu makanya dinamain pasar kembang Sye hehe soktau.com, tp ada emang wilayah di Yk yang namanya itu, entah yang dilalui Elsye pasar kembang atau bukan... jadi pingin ke Yk lagi, kemarin ngga puas :-(

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...