Showing posts with label Indonesia Travel. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Travel. Show all posts

Friday, January 14, 2011

Borobudur - Tour De Java 2010

Salah satu perjalanan di tahun 2010 media Juli, Borobudur salah satu keajaiban dunia semoga tetap lestari dan terjaga ! Lestarikan semua budaya serta bangunannya..


Borobudur


Borobudur

Borobudur

Borobudur

Sebagian foto yang terekam kamera, sayang tak banyak aktivitas berfoto ria kala itu, sibuk dengan memasukan tangan ke dalam lubang-lubang di stupa.

Untuk lebih mengetahui tentang candi Borobudur, kalian bisa intip di http://en.wikipedia.org/wiki/Borobudur

Wednesday, December 22, 2010

Batik Harni Pekalongan

Perjalanan ke Pekalongan kami, ini postingan yang tertunda. Harusnya sudah saya posting beberapa bulan ke belakang, tapi nyatanya baru sekarang terlaksana.

Rangkaian dari tour ke Jawa Tengah, di mulai dari Pemalang, Solo, Yogya dan berakhir di Pekalongan. Sahabat saya, Vivin sudah menjanjikan kami untuk dapat melihat proses pembuatan batik di pabriknya. Ini tentu jadi salah satu momen yang ga mungkin dilewatkan. Walau hanya semalam di Pekalongan kami meluncur ke pabrik pembuatan batik itu.

DSC_0660

Terletak di salah satu gang sempit namun bersih, pabrik batik rumahan ini memang agak terselip dari beberapa rumah. Rumah keluarga Vivin yang cukup besar ini dibagian belakangnya terdapat pabrik batik dengan berbagai merek dagang salah satunya adalah Batik Harni. Disambut ramah oleh sang empunya Ibu Hani, kami pun mulai memasuki ruangan tempat dimana mereka memproduksi batik

DSC_0573

Ruang yang cukup besar namun sedikit panas itu, memang terlihat gelap. Beberapa karyawan sibuk membuat batik cap. Disudut lain, beberapa ibu membatik dengan menggunakan canting dan malam panasnya. Telaten dan rapi. Batik tulis ini memang lama proses pembuatannya, makanya harga yang ditawarkannya pun cukup tinggi. Selaian motifnya pun di design khusus perlu ketelitian, keahlian dan kejelian untuk membatik dengan canting.

2010_0702 Tour De Java4

Ada beberapa bahan yang digunakan untuk pembuatan batik ini, kain mori, pensil untuk design, canting malam/lilin panas, panci dan kompor kecil untuk memanaskan malamnya. Tapi jangan salah untuk batik cap yang mahal adalah alat bantu cap nya. Dibuat khusus dair baja/besi dengan desain khusus pula.

Nah kalo kamu ingin tahu lebih jelas dan rinci  proses pembuatan batik yang lengkap bisa di baca di website ini :

DSC_0585

Batik yang di cap oleh tangan juga dilakukan di pabrik Batik Harni, mengandalkan pekerja pria yang sudah trampil, pengecapan batik terlihat rapi dan terstruktur. Menurut sang pemilik, batik cap lebih mudah dibuat dibanting batik tulis. Walau begitu peminat batik cap juga cukup banyak.

DSC_0582

DSC_0579

Batik Harni

DSC_0606

Salah satu bagian yang kami suka adalah nglorot, proses penghilangan lapisan lilin. Disalah satu ruang khusus disamping rungan membatik, proses ini dilakukan. Dua orang pegawai pria dengan trampil mulai memasukan kain-kain batik itu ke dalam air panas. Yaitu untuk menghilangkan lapisan lilin sehingga motif yang telah digambar terlihat.

DSC_0605

2010_0702 Tour De Java12

Di ruangan lain terlihat beberapa karyawan mulai mengerjakan penjahitan. Kebanyakan kain yang dijahit adalah selendang. Banyak ragamnya dan warna-warna khusus ekspor. Batik yang diproduksi disini memang diperuntukkan ekspor. Ada beberapa negara tujuan yaitu Jepang, US, Timur Tengah, Itali dan negara Eropa lainnya.

DSC_0665

Jalan-jalan di pabrik ini pun, berakhir dengan senang. :) thanks buat Vivin, Mbak Uke dan tante Hani yang udah mau direpotin dengan kunjungan kita. 

Buat teman-teman yang mau kunjungan ke sini siilahkan kontak email : batikumihani@gmail.com ga rugi dan ini bisa jadi kunjungan yang menyenangkan bukan hanya unutk anak-anak tapi juga buat orang dewasa.

Batik Harni Pekalongan
Alamat : Jl. Progo II No. 20 Pekalongan Jawa Tengah
Kontak : Vivin

Tuesday, November 30, 2010

Yang Harus Dibenahi : Pulau Bidadari

Pulau Bidadari merupakan salah satu resor di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Sebelum bernama Pulau Bidadari, pulau ini memiliki dua nama yaitu Pulau Sakit dan Pulau Purmerend.
Sumber : Wikipedia

DSC_0082

Weekdays di pulau Bidadari yang terlihat sepi dengan ombak besar terbawa angin, memang jadi terasa aneh. Pulau yang ada didekat Jakarta ini cukup mudah untuk dituju, hanya butuh 20 menit dari pelabuhan dekat Ancol kamu bisa langsung mendarat disini.

Ini kali kedua, menginjakkan kaki dipasir pantai yang terlihat agak kotor. Ditepiannya, seonggok sampah menjadi pemandangan awal kami. Daun-daun kering yang seharusnya di sapu, bertebaran terkena angin. Sayang, pulau yang seharusnya menjadi ladang uang tampak tak terawat.

Bidadari

Sampah plastik, dan bekas makanan bertaburan diantara pasir. Yup, kami berencana menginap satu malam di salah satu resort yang ada. Menambil kamar kapasitas 4 orang, didalam benak saya pastilah nyaman sedikit berleyeh-leyeh didalamnya. 

Ehm, apaboleh buat memasuki ruangan kamar turunlah mood saya. Kamar kapasitas 4 orang itu, terasa kotor walau kondisi AC cukup nyaman. Sudut kamar mandi berlumut dan tampak jarang dibersihkan. Lantai pun berpasir. Kecewa...iya jelas. 

Untuk sedikit mengurangi kekecewaan saya pun, mulai menyiapkan ancang-ancang untuk mencari objek foto yang lumayan. Tapiiiii...tak ada objek bagus yang bisa diambil gambarnya, kecewa lagi...iya.

DSC_0113

DSC_0111

DSC_0106

DSC_0101

DSC_0121

Well, foto diatas jadi beberapa kenangan yang ada di pulau Bidadari. Iya...pulau itu memang harus dibenahi, saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya.

Friday, October 22, 2010

Selayang Pandang dari Prambanan dan Boyolali

Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.
Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.
Source : Wikipedia


DSC_0117

Selesai menyusuri sudut kota Yogya, kami bertolak ke Prambanan,salah satu candi yang penuh sejarah. Perjalanan yang dilewati lumayan jauh dari Yogya tapi hasrat hati ingin kembali ke Prambanan melumpuhkan semuanya. Walau sedikit lelah, tibalah kami di pelataran candi Prambanan. Kala itu lumayan banyak pengunjung yang masuk kesana, mungkin karena sedang liburan sekolah.

2010_0702 Tour De Java11

Dari jauhan terlihat candi megah menjulang. Dengan ukiran/relief yang khas, membuat kami terkagum-kagum kembali. Iya, ini salah satu candi Hindu yang terbesar di Asia Tenggara. Komplek candi ini terdiri dari 8 candi utama dan 250 candi kecil lainnya. 

Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta.
Sumber : Wikipedia
 
Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya.
Sumber : Wikipedia


DSC_0167

Anak-anak teringat akan Little Krishna The Movie, cocok untuk belajar sejarah langsung ke sumbernya. Jika dilihat, sebenarnya pemeliharaan candi ini sangat minim. Hanya ada 1 orang bapak yang bekerja memunguti sampah. Iya, kebanyakan pengunjung seenaknya membuang sampah botol atau plastik di pelataran candi. Sungguh sayang, keajaiban alam ini malah tercoreng karena sebagian orang yang tak bertanggungjawab.

Disisi lain, banyak batu candi yang ternyata telah di curi/diambil oleh penduduk sekitar. Jika kita lihat betapa candi ini penuh makna sejarah. Pengaruh agama hindu yang kental menjadikan keragaman budaya yang ada di Indonesia.


DSC_0193

Masih dalam satu area Candi Prambanan terdapat juga Candi Sewu. Salah satu candi Budha terbesar setelah Candi Borobudur.

Candi Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara candi Prambanan. Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar kedua setelah candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi Sewu berusia lebih tua daripada candi Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 257 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan Candi "Sewu" yang berarti "seribu" dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.
Sumber : Wikipedia 

Kami menyusuri komplek candi dengan menggunakan kereta. Harganya tak terlalu mahal tapi kita bisa berputar disekitar candi Prambanan dan Sewu.

Kala itu candi Sewu tengah diperbaiki. Bangunan utamanya mungkin sedang di renovasi. Terlihat aktivitas perbaikan disekitar area candi. Pengunjung pun tidak sepadat Candi Prambanan.

Kalau kamu mau,bisa juga berkunjung ke candi lain tapi letaknya agak jauh dari komplek Candi Prambanan, yaitu Candi Ratu Boko. Berada sekitar 3 km ke arah selatan dari komplek Prambanan.

2010_0702 Tour De Java9

Perjalanan  beralih ke pelataran parkir candi dekat dengan are penjualan barang kerajinan khas pulau Jawa. Pasarnya agak gelap, penuh sesak orang dan keliatan tak teratur. Beberapa penjual keliling sedikit memaksa menawarkan dagangan mereka.


DSC_0206

Aneka perhiasan etnik,tas, dekorasi rumah dan banyak lagi barang pernak pernik melimpah ruah disini. Baju batik, kain sampai boneka bisa dipilih jadi buah tangan. Harganya sedikit miring,tapi memang kualitasnya tidak begitu bagus. Kita mesti pintar memilihnya.


DSC_0216


Sebenarnya kami terpaksa melewati jalur pasar tersebut. Pihak pengelola rupanya menutup beberapa ruas jalan sehingga pengunjung mau tidak mau harus melewati pasar kerajinan itu. Jalan menuju arah tempat parkir jelas lebih jauh dan lebih panjang.


DSC_0204

Setelah puas melihat-lihat, kamipun bertolak ke Boyolali. Satu kota di Jawa Tengah tempat dimana orang tua tinggal. Lumayan jauh dari Prambanan.


DSC_0067

Kota sejuk dan bersih itu, memang beda dari kota lain di pulau Jawa.Terlihat lengang dan tidak banyak orang. Jalan-jalannya juga bersih dari sampah. Di tiap 50 meter terlihat tempat sampah tergantung rapi. Aktivitas penduduk juga tak terlihat ramai. 

Sejuk, karena tepat berada di kaki gunung Merapi dan gunung Merbabu. Jangan lupa kota ini juga penghasil susu sapi segar terbesar di Jawa Tengah. Sapi-sapi itu diternakan didaerah selatan.

DSC_0075

Rumah-rumah tua,masih terlihat jelas disini. Walau tua tapi terkesan bersih dan terawat. Tiap kali menyisir jalan, tampak banyak pepohonan dan bebungaan di kanan kirinya. Segar, beda sekali dengan Jakarta yang panas juga berdebu.

"Daerah ini seperti Oase." 

2010_0702 Tour De Java6

Puas jalan pagi, kami pun diajak sarapan di salah satu kedai Soto, iya kota ini ternyata kota soto. Di beberapa sudut jalan, terpampang plang nama soto. Pagi hari ternyata penduduk sekitar sarapan soto.

Kedai Soto Delik jadi persinggahan pertama sarapan kami. Pengunjung cukup ramai. Kami pun harus menunggu beberapa orang yang masih sarapan. Berdiri diantara jejeran bangku panjang kedai itu.

Akhirnya soto bening kaldu sapi pun telah siap di meja. Meja panjang beserta cemilan khasnya tersedia. Ada tempe, perkedel kentang, risol isi bihun, sate telur puyuh, sate ati ayam sampai mento.

2010_0702 Tour De Java3

Sotonya dalam mangkuk kecil dan bercampur nasi. Irisan daun bawang juga daging dan kecambah menambah nikmat sarapan pagi itu. Dengan 4000 rupiah kamu bisa dapat satu porsi soto yang gurih. Kamu juga bisa menambah beberapa gorengan lezat yang siapsedia dimeja panjang itu.

Well, tiap perjalanan memang selalu menyenangkan, dengan keunikan daerah masing-masing yang selalu ada ditiap persinggahan.

Sunday, October 17, 2010

Malioboro Sudut Yogyakarta yang Tak Terlupa

Menikmati tiap sisi Jalan Malioboro - Yogyakarta, seperti melihat suasana baru. Dari keramaian Jakarta dengan orang-orangnya yang hanya memikirkan dirinya sendiri, kami merasa terlempar ke satu sudut kota dengan penduduk ramahnya. 

Kami sengaja menginap disalah satu hotel murah di pinggiran jalan Malioboro (toh kami hanya menginap satu malam). Hotelnya lumayan bersih dengan detil tradisional Jawa Tengah yang kental. Turis asing dan backpaker ternyata banyak menginap disini. Penuh tapi tertib dan teratur.  


DSC_0288


Pagi hari, dimulai dengan berjalan menyusuri gang kecil dari depan hotel, menuju ke jalan utama.Terlihat becak-becak telah menempati "titik" nya. Dengan ramah tapi agak sedikit memaksa sang penarik becak menawarkan jalan-jalan keliling Malioboro sampai ke Kraton. Pagi hari mereka masih "banting harga" Rp. 5.000,- - Rp. 10.000,- per becak sudah pasti puas berkeliling.


DSC_0326


Ngomong-ngomong soal becak, pembicaraan kami dengan si tukang becak pun mengalir. Ada banyak becak disini, dan beberapa paguyuban atau perkumpulannya. Satu perkumpulan bisa beranggotakan puluhan tukang becak. Sekarang pekerjaan ini (menarik becak) makin menjamur di daerah Malioboro. Dulu mungkin si Bapak, bisa mendapat Rp. 40.000,- sehari namun sekarang penghasilannya berkurang. Sudah syukur dapat Rp. 20.000,- sehari.


DSC_0335


Jalanan masih terlihat lengang, berderetan toko disepanjang Malioboro masih tertutup. Gerobak jualan pun masih terbungkus rapi. Yang ada hanya penarik becak dan sesekali terlihat beberapa ibu menjajakan makanan untuk sarapan.


2010_0702 Tour De Java8


Aktivitas pagi itu belum terlihat ramai, kami berputar-putar ke arah pasar dan sekitarnya. Sekumpulan tukang bunga menjajakan bunganya. Pemandangan manis. Saya sendiri tak tahu bunga apa yang di jual dan untuk apa, tapi terlihat segar dalam keranjang bambu. Ingin rasanya bertanya, tapi si abang tukang becak tetap mengayuh cepat becaknya ke arah jalan menuju hotel.


DSC_0323


Di pinggir gang sempit menuju hotel, terlihat seorang ibu menjajakan beberapa masakan untuk sarapan pagi. Gudeg dan makanan khas Jawa Tengah dijualnya. Harganya relatif murah. Pembelinya pun warga sekitar gang. Terlihat beberapa wisatawan ikut membeli dagangannya.


DSC_0281


Malam pun tiba, ehmmm rasanya kurang jika tidak mencoba makan lesehan di sepanjang Malioboro, apalagi kami akan bertolak ke Solo besok pagi. Tetap dengan tukang becak yang sama kami menyisir jalanan yang makin malam malah semakin ramai. Yang lucu, harga becak pun bertambah mahal. Sama seperti siang hari, makin siang malah semakin mahal. Bisa disimpulkan harga becak siang hari berlipat jadi 4 kali, dari Rp. 5.000,- menjadi Rp. 20.000,- *gooshh* Untuk malam hari harga itu sedikit menurun, Rp. 10.000,- satu becak. Mungkin karena kami hanya turis mereka bisa enaknya menawarkan harga.


2010_0702 Tour De Java7


Kembali ke lesehan, ehmmm rupanya memang tempat lesehan jadi wisata sendiri bagi turis. Penuh sesak sampai kami harus mengantri untuk mencari tempat duduk yang pas. Sederetan jalan Malioboro dipenuhi tenda lesehan dengan berbagai menu yang ditawarkan. 

Salah satu teman saya yang asli Yogya pernah bilang, "makan di lesehan sebenernya ga begitu enak apalagi harganya juga suka di patok dengan harga turis, tapi lo kalo ga makan di lesehan Malioboro, berarti lo belum ke Yogya"

Well berbekal kata-kata itu, akhirnya kami nekat mencoba menu lesehan, aww memang terlihat tak begitu enak tapi rasanya kurang puas kalau tidak mencoba.Walau bersempit-sempit tapi tetap ingin tau sensasi makan di lesehan.


2010_0702 Tour De Java2

Kami pun memesan nasi gudeg yogya yang terkenal itu, ditambah beberapa ekor burung dara yang katanya renyah. Ga lama, makanan kami pun datang. Gudeg yogya dengan nasinya menurut saya tidak istimewa, walau dingin tapi masih ok lah untuk makan malam. Burung daranya... oo goshh keras ! Saya masih berusaha menggigit bagian-bagian daging yang melekat kuat ke tulangnya. Tapi ternyata tidak bisa. Dagingnya keras. 

Hiruk pikuk lesehan terus berlanjut, pengamen, tukang gambar dan beberapa orang yang menawarkan sewa mobil bolak balik kemeja kami. Ehmm ternyata ini toh sensasi makan lesehan. Ramai ....

Yaa...mungkin jika ada waktu, kami akan kembali ke Yogya, menikmati sudut-sudut lainnya. Menikmati keramahan penduduk juga menikmati naik becak. Unik...dan tak terlupa. !

Friday, October 8, 2010

Yang Tak Terlewat dari Yogya : Pasar Sayur Beringharjo

Yogya, salah satu kota yang sulit terlupakan, sama seperti lagu KLA Project "Yogyakarta" tiap sudutnya menyapa bersahabat.

Satu pasar besar di daerah JL. Ahmad Yani, Pasar Beringharjo yang terkenal dan tak mungkin di lewatkan.

Pasar Beringharjo adalah pasar tradisional yang terletak di Jl. Jend A. Yani Kawasan Malioboro, Yogyakarta. Pasar ini terkenal dengan koleksi dagangan batik, baik yang berupa kain batik ataupun produk garmen batik lainnya seperti, daster, celana pendek, piyama dll. Lokasi pasar ini bersebelahan dengan museum sejarah Benteng Vredeburg dan berseberangan dengan Gedung Agung. Pasar ini terkenal sebagai salah satu tujuan wisata dan sekaligus merupakan pusat kegiatan perdagangan produk batik Yogyakarta. 
Sumber : Wikipedia


DSC_0319

Tujuan kami sebenarnya adalah Pasar Batik Beringharjo, tapi ternyata pasar tersebut baru buka sekitar pukul sepuluh pagi. Cukup siang untuk ukuran pasar tradisional. Karena keterbatasan waktu akhirnya pasar sayur pun disambangi.

Menggunakan becak, yang kala pagi masih sepi dan tarifnya pun masih murah. Berkisar Rp. 5.000,- sampai Rp. 10.000,- per satu becak,  kami bisa berkeliling dari depan Malioboro sampai ke kraton dan singgah di Beringharjo. Sambil menaiki becak di sejuknya hawa Yogya, tiap sudutnya tak luput dari "jepretan" kamera. Tak mungkin momen-momen itu terlewatkan.


DSC_0296

Karena masih pagi, tukang becak pun masih mau menunggui kami untuk melihat-lihat isi pasar. Tak berbeda dengan pasar tradisional didaerah lain, pasar ini juga menawarkan berbagai macam sayur, buah, daging sampai bumbu.
 

DSC_0318

Sayuran dan buah yang ditawarkan relatif segar, walau ada beberapa yang mulai layu. Harganya memang sedikit lebih murah dari pasar tradisional di daerah Jakarta. Mungkin karena mereka langsung mendapat supply dari petani. 

DSC_0303

Melewati lorong yang gelap ternyata pengunjung pun tidak sebanyak yang kami duga. Yang unik, terlihat beberapa orang ibu buruh gendong. Terlihat sudah tua tetapi ternyata mampu menggendong kiloan sayur di punggungnya. Tarifnya pun tidak besar. Rp. 4.000,-sampai  Rp. 5.000,-untuk sekali gendong/angkut barang. 

2010_0702 Tour De Java5

Bisa dibayangkan, penghasilan setiap harinya mungkin tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Tak terlihat sedikit pun rasa capek setelah menggendong/mengangkut barang atau sayuran..Hebat !

Setelah berputar sebentar di lokasi pasar, kami pun memutuskan untuk keluar. Memanggil kembali si tukang becak dan bertolak menuju penginapan. Jalanan masih terlihat sepi, walau dipinggirannya gerombolah becak sudah mulai beroperasi.

DSC_0321

Dipinggiran jalan menuju penginapan, ada segerombol ibu-ibu penjual bunga. Momen bagus yang sayang dilewatkan. Walau masih di atas becak, kamera narsis saya masih "jeprat jepret" mengabadikan ibu penjual bunga.

Saya sendiri sama sekali tidak tau bunga apa yang di jual dan untuk apa. Hanya pemandangan unik ini jarang kami temui sebelumnya.

DSC_0324

Satu sudut Yogya sudah kami lalui, walau pasar tradisional sayur biasa tapi jadi satu keunikan dari daerah ini.

Wednesday, September 29, 2010

Jalan- Jalan : Pelabuhan Sunda Kelapa

Sunda Kelapa adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta, Indonesia. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta, daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527.
Sumber : Wikipedia

IMG00062-20100912-0917


Jalan-jalan ke ibu kota setelah melewati 2 hari lebaran membuat sensasi tersendiri. Ibukota yang biasanya di ramai dan padat, kala itu terlihat lengang. Kami pun bertolak menuju pelabuhan Sunda Kelapa yang terkenal itu. Panas terik Jakarta tidak memadamkan kami untuk sekedar melihat pelabuhan itu, sayangnya kamera yang biasanya tergantung rapi tidak ikut dibawa serta. Tak ada rotan akar pun jadi, kamera handphone pun diberdayakan.

IMG00067-20100912-0919

Memasuki area pelabuhan, kami harus membayar uang masuk terlebih dahulu. Dua pria berseragam coklat memberhentikan laju kendaraan kami. Setelah mendapatkan karcis kami pun mulai menyisir daerah pelabuhan. Tak banyak aktivitas disana, pelabuhan cenderung sepi, kapal-kapal merapat ke tepian. Mungkin karena masih dalam masa libur hari raya.

Area yang cukup luas itu, terlihat kusam. Di sudut depan dekat pintu masuk ada satu ruangan kecil semacam pos tempat informasi untuk turis. Ruangan sempit dan pengap itu tak tampak satu orang pun penjaganya. Kusam cenderung tak terawat. Padahal dihari yang sama, terlihat segerombolan turis asing menuruni bis pariwisata besar untuk melihat-lihat kapal pinishi yang cantik.

IMG00066-20100912-0918

Suasana yang panas terik pun tidak menghalangi kami dan para turis berfoto. Diantara kumpulan kapal yang cantik itu, ada seorang bapak menawarkan perahu kecil semacam sampan kepada kami. Beliau menawarkan jalan-jalan ke tengah pantai. Tapi kami menolaknya. Melihat perahu yang kecil dan pantai yagn lumayan kotor, mengurungkan niat kami bersampan.

Sayang sekali, pelabuhan besar nan cantik dan dikelilingi orang perahu pinishi yang kokoh, malah tidak terpelihara. Padahal area itu mungkin bisa dijadikan objek wisata bahari di ibu kota.

Sunda Kelapa juga merupakan nama dari Jakarta sebelum tahun 1527.
Sumber : Wikipedia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...